Claude Masih Menang, Tapi Kita Mulai Siapkan Sekoci — AI Tools Digest #13
Claude Masih Menang, Tapi Kita Mulai Siapkan Sekoci — AI Tools Digest #13
Minggu ini rasanya seperti nonton hubungan toksik versi developer: kita masih sayang Claude Code, tapi makin sadar kalau terlalu bergantung ke Anthropic itu bikin deg-degan. Dari 898 pesan di grup, pola yang paling kuat bukan mencari tool baru paling hype, tapi menentukan rute kabur kalau Claude tiba-tiba berubah aturan lagi.
Claude Tetap Enak, Anthropic Tetap Bikin Ruwet
Opus 4.7 jadi bahan obrolan paling panas. Mas Agung ngerasain bedanya langsung: “opus 4.7 cara ngobrolnya beda eh, dia lebih jago kalo dibebasin 😭\nkalo di guard kayak ogah ogahan ngodink anzay”. Ini menarik karena banyak dari kita makin sadar: model bagus itu bukan cuma soal benchmark, tapi soal cara dia diajak kerja.
Tapi tentu saja, tidak ada honeymoon yang mulus. Mas Riza Rohman mengingatkan, “di X masih banyak yg sambat, salah tp pede abis”. Dan saya (Zain) sendiri merasa ini sudah masuk fase lock-in yang agak absurd: “Bener-bener vendor lock-in ya. Anthropic berhasil membuat pelanggannya gandrung dan susah pindah ke provider.”
Masalahnya bukan cuma kualitas jawaban. Minggu ini kita juga lihat kebingungan plan, limit, reset, postmortem, sampai isu akses Claude Mythos. Zain-mode saya langsung keluar waktu bilang: “Saran saya sih, buat yg terlalu bergantung pada Opus, siapkan kapal sekoci. Cobain model-model lainnya yg lebih ramah pengguna.\n\nTabiatnya Anthropic kucing-kucingan terus sama penggunanya.” Mas Tunggul juga menangkap sisi seriusnya ketika membahas laporan Guardian itu: “Innalilahi ...\n\nAccess ke Claude Mythos pun bisa jatuh ke tangan orang yang tidak seharusnya”.
Jadi posisi Claude minggu ini paradoks banget: masih benchmark untuk taste, planning, dan kualitas akhir; tapi makin sulit dijadikan satu-satunya fondasi workflow. Implikasinya jelas: kalau tool terbaik juga paling bikin cemas, strategy-nya bukan pindah total — strategy-nya punya sekoci yang benar-benar pernah dicoba.
Sekoci Budget Mulai Terlihat Nyata
Sekoci paling konkret minggu ini adalah opencode Go. Mbak Eka bilang, “Belum, paling besok2 coba Opencode subscription yg udah include Kimi, Minimax, GLM”. Kombinasi Kimi, Minimax, dan GLM 5.1 di satu paket murah membuat banyak orang mulai melihatnya sebagai fallback yang masuk akal.
Tapi grup kita jarang berhenti di murah nih. Mas Zahid langsung memberi reality check: “opencode go ku kurang kalo cuman 10usd, wkwkw”. Mas Luthfi A membawa contoh workflow yang lebih menarik: “udah aku coba plan opus max, trus yg execute si glm51, bagus banget”. Ini mulai mengarah ke pola baru: model mahal untuk mikir, model lebih murah untuk eksekusi.
GitHub Copilot juga mendapat pembelaan yang cukup mengejutkan. Mas Oshi bilang, “Copilot CLI sebenernya bagus… bisa dibilang hampir mirip dgn CC.. tapi Copilot masih kurang influencer… 😂”. Saya suka quote ini karena merangkum masalah reputasi Copilot: mungkin bukan selalu kalah teknis, tapi kalah narasi.
Di sisi lain, Kimi K2.6 tetap disukai sebagai alternatif saat Claude ngaco. Mas Luthfi A melaporkan, “udah ku tes sih tp pake kimi-for-coding , masih ngasih compile error tp udah mulai berkurang tadinya ada 10 skrg jd cmn ada 1-2 aja”. Ada progress, tapi belum bebas gesekan.
Yang perlu dicatat: diskusi promo, free tier, dan akses murah minggu ini saya baca sebagai sinyal risiko, bukan rekomendasi. Mbak Eka sempat cerita, “Bikin akun kloningan Kimi baru, ternyata promo usd 0.99 udah gak ada :(”. Buat artikel publik, takeaway-nya bukan cari celah lain, tapi jangan bangun workflow serius di atas promo yang bisa hilang besok.
Sekoci lain juga muncul: Kilo Gateway dipuji Mas Desilino karena fleksibel dan cepat update model, Xiaomi Mimo disebut Mas Aria dengan sederhana: “Mimo cakep”, Nahcrof AI menarik karena murah tapi pricing-nya masih perlu dibaca hati-hati, dan Codex tetap jadi fallback yang tidak bisa diabaikan. Implikasinya: 2026 bukan era satu subscription sakti, tapi era portofolio tool yang harus diukur pakai cost, quality, dan failure mode.
Codebase AI-Friendly Mulai Jadi Disiplin Serius
Bagian favorit saya minggu ini bukan tool baru, tapi obrolan tentang bagaimana membuat codebase lebih enak dibaca agent. Kita membahas ADRs, AGENTS.md, CLAUDE.md, skills, spec, pattern docs, dan state yang portable.
Ini bukan dokumentasi demi dokumentasi. Kalau agent setiap kali harus membaca ulang struktur repo, history keputusan, naming convention, dan cara release dari nol, token burn-nya jadi biaya tersembunyi. Agentic SDLC Handbook tentang prose specification yang dibawa Mas John nyambung banget di sini: spec yang bagus bukan cuma untuk manusia, tapi juga untuk agent yang perlu memahami konteks tanpa halu.
Saya juga melihat koneksi kuat ke OpenClaw, MemPalace, dan tk/ticket. Saat saya (Zain) bilang “Karena gampang ditransfer antar-agent, bahkan ke OpenClaw pun gampang.”, maksudnya sederhana: jangan taruh seluruh memori kerja di chat history satu vendor. Mas Aidityas menangkap sinyal adopsinya juga: “Bisa jadi sign of adaptasi openclaw semakin tinggi”.
Implikasinya lumayan besar: codebase yang bagus untuk AI bukan codebase yang paling banyak prompt-nya, tapi yang paling sedikit butuh penjelasan ulang.
⚡ Quick Hits
-
Roo Code cloud/router sunset jadi pengingat pahit. Mas Michael merangkumnya pendek: “roo code tumbang 🥲”. Kalau state dan workflow kamu terkunci di satu layanan, sunset kecil bisa terasa seperti migrasi besar.
-
Qwen + Ollama local coding masih menarik, tapi belum santai. Mas Nulad bilang, “Saya pake qwen3.6:35b-a3b-q4_K_M sama gemma4:26b via ollama kok bapuk ya.” Mas Wibowo memberi arah teknis: “defaultnya ollama itu context windowsnya 4096, set lebih besar dan perlu di atur di opencode, tools true”. Local agent itu mungkin, tapi bukan plug-and-play.
-
Koma Run bikin grup berubah jadi product council dadakan. Mas Agung tidak cuma tease project, tapi langsung mengarahkan request ke issue: “nah monggo fitur yang dimau, langsung di issue nya aja wkwkwkw”. Ini energy yang saya suka: bukan cuma hype “karya anak bangsa”, tapi langsung diuji dengan feature request.
-
Gas City membuat ekosistem agentic open-source terasa makin cepat. Saya (Zain) share dengan catatan, “Gas City sudah diluncurkan. Nampaknya menarik, tapi perlu siapin strategi dompet & token dulu. 😅” Mas Tunggul tentu saja membuatnya musikal: “🎵 Take me down to the Gas City, where the grass is green and the agentic is pretty 🎶 😁”.
-
Vercel Workflows menarik karena durable execution makin relevan untuk agent, backend, ETL, dan payment. Mas Riga bilang, “Menarik tool vercel workflow ini bisa untuk agents, backend dan pipeline etl, payment ...”. Lalu v0 Chess Match jadi selingan lucu; Mas Abraham tetap realistis: “llm vs stockfish keknya masih menang stockfish 😅”.
Takeaway Quick Hits minggu ini: agentic tooling sudah melebar dari coding assistant mana yang paling pintar menjadi ekosistem mana yang paling tahan lama, hemat, dan bisa dipindah.
✅ Yang Perlu Dicoba Minggu Ini
-
Siapkan lifeboat non-Anthropic: coba opencode Go, Codex, atau GitHub Copilot CLI di task kecil yang nyata, bukan sekadar hello world.
-
Kalau pakai model murah seperti GLM atau Kimi, uji dengan pola split: model mahal untuk planning, model murah untuk execution. Catat bug, retry, dan total biaya.
-
Tambahkan ADR, AGENTS.md/CLAUDE.md, dan spec ringkas di repo aktif. Mulai dari satu file yang menjelaskan arsitektur, cara test, dan aturan coding yang sering kamu ulang ke agent.
-
Kalau penasaran local coding agent, baca ulang artikel opencode + Ollama + Qwen3 Coder, lalu cek context window, tool calling, VRAM, dan offloading sebelum menyalahkan modelnya.
-
Pantau Koma Run dan Gas City sebagai sinyal arah ekosistem, bukan sekadar project baru.
Implikasinya praktis: jangan tunggu provider mengubah aturan dulu baru panik; minggu ini waktu yang bagus untuk membangun fallback kecil yang sudah pernah kamu pakai beneran.
👥 Kontributor Minggu Ini
- Mas Agung — memberi impresi Opus 4.7 dan mendorong Koma Run dari obrolan menjadi issue nyata.
- Mas Riza Rohman — mengingatkan sisi salah tp pede dari Opus baru.
- Zain — menyorot vendor lock-in, lifeboat Anthropic, OpenClaw portability, dan Gas City cost reality.
- Mas Tunggul — membawa concern Claude Mythos, local model realism, dan tentu saja lagu Gas City.
- Mbak Eka — membuat diskusi promo Kimi menjadi cautionary tale, bukan strategi.
- Mas Zahid — memberi reality check opencode Go dan banyak konteks operator lapangan.
- Mas Luthfi A — membawa test Kimi-for-coding dan workflow Opus planning + GLM execution.
- Mas Oshi — membela Copilot CLI dengan jujur sekaligus lucu.
- Mas Aria — memberi sinyal awal soal Xiaomi Mimo.
- Mas Michael — membawa kabar Roo Code dan banyak link ekosistem.
- Mas Nulad — menunjukkan friction local Qwen/Gemma via Ollama.
- Mas Wibowo — memberi diagnosis context window dan tool-calling untuk setup local.
- Mas Riga — membawa Vercel Workflows dan konteks durable execution.
- Mas Abraham — menjaga demo LLM-vs-chess tetap membumi.
- Mas Aidityas — menangkap sinyal adaptasi OpenClaw.
Daftar ini penting karena digest ini bukan ringkasan dari luar grup; ini peta kecil dari orang-orang yang sedang mencoba, gagal, ngakak, dan tetap merakit workflow yang lebih tahan banting.
Ditulis dari dalam grup, bukan dari luar. Zain Fathoni, dengan bantuan Bro Pro 🚔, Kang Re 📼, dan Lek Jack 🛠️ — 26 April 2026