Grok Masuk Arena, Budget Tetap Jadi Drama — AI Tools Digest #24
Grok Masuk Arena, Budget Tetap Jadi Drama — AI Tools Digest #24
Minggu ini rasanya seperti semua orang di grup sedang memegang kalkulator. Grok 4.5 rilis, Cursor mulai ramai dicoba bareng Grok, Codex punya drama Sol/Terra/Luna, Koma lanjut bereksperimen, dan Amp Code bergerak ke arah agents anywhere. Di tengah itu, amux jadi jembatan yang menarik: local tmux workspace + lifecycle layer untuk Amp, terutama ketika satu sesi agent sudah mulai berkembang jadi banyak terminal, runner, worker, dan workspace yang harus tetap rapi.
Tapi setiap kali kualitas model naik, pertanyaan yang muncul tetap sama: ini bisa dipakai kerja harian tanpa bikin dompet panik?
Grok 4.5 Bikin Cursor Ramai Lagi
Cerita terbesar minggu ini jelas Grok. Mas Michael jadi semacam CNO grup sendiri, sat-set share link rilis, testimoni, dan cara pakainya. Kalimat Mas Michael yang paling mewakili hype minggu ini: "saya bantu buzzerin Cursor, mantap guys coba kombinasi composer sama grok 4.5 😂".
Yang menarik, Grok tidak dibahas sebagai chatbot. Grok langsung masuk ke workflow: Cursor Composer, OMP advisor, dan pairing dengan model lain untuk eksekusi. Mas Aldi juga mengingatkan sisi aksesnya: "Grok 4.5 gratis di grok build fyi" ketika obrolan Cursor + Grok mulai naik.
Lalu tentu saja, begitu tool terasa bagus, grup langsung berubah jadi tim finance. Mas Agung mencatat satu prompt bisa habis sekitar 0.02, sementara Mas Zahid setelah mencoba kombinasi advisor bilang, "tapi mayan boros juga, wkwk." Ini pola yang makin jelas: model baru tidak cukup dinilai dari pintar atau tidak. Ia harus masuk akal sebagai bagian dari routing budget.
Implikasinya: Grok 4.5 bukan cuma model baru. Ia memaksa kita memikirkan ulang posisi "advisor mahal" dalam agent workflow.
Sol Bagus, Tapi Angkanya Ikut Bicara
Di sisi Codex, obrolannya lebih terasa seperti laporan lapangan. Sol dipuji, tapi biayanya tetap ikut bicara. Mas Zahid merangkum dengan sangat jujur: "gpt sol bagus T_T tapi mahal. wkwk" lalu menambahkan bahwa satu kali plan bisa menghabiskan 7 ribu.
Mas Mei Rizal juga sempat menemukan perilaku limit yang membingungkan: "Iya lg run sol. Ada yg aneh tapi, ini saya kek ada 2 limit 🤣." Beberapa jam kemudian grup membahas reset limit yang sempat terasa seperti bansos, lalu ternyata lebih mirip bug. Senang sebentar, lalu balik lagi menghitung.
Yang membuat minggu ini menarik adalah munculnya pembandingan Sol, Terra, dan Luna. Mas Zahid bilang, "terra 1 kali planning habis 10% tapi enak cepet karena di high thinking nya" sementara Luna terlihat lebih hemat walau xhigh bisa lama. Mas Agung bahkan menyederhanakan opsi dengan kalimat pendek: "luna cukup bang."
Menurut saya ini bagian paling praktis dari minggu ini. Kita tidak lagi bertanya "model mana paling kuat?" saja. Pertanyaannya bergeser ke "model mana yang cukup kuat untuk tahap workflow ini?"
Harness Makin Jadi Produk Utama
Kalau minggu lalu Koma naik panggung, minggu ini Koma mulai terasa sebagai lab workflow. Mas Agung share arah fitur seperti desktop, WQA, dan routing model. Kalimat "koma desktop + ada fitur WQA untuk model yang bisa kirim gambar" dari Mas Agung cukup menggambarkan arah itu: agent tidak berhenti di generate code, tapi mulai masuk ke build + QA.
Koma juga terus dilempar ke obrolan pricing dan packaging. Bahkan plan "jus buah" sempat muncul: apple free, peach, ultra. Bercanda, tapi bukan sekadar bercanda. Di pasar agent tooling sekarang, packaging adalah fitur. Kalau model bisa diganti-ganti, pengalaman membungkus model itu jadi nilai utama.
Mas Luthfi A membawa kebutuhan yang sangat nyata: "aku pengennya codex cli atau opencode cli dll itu bisa di kendalikan dari hp." Dari sini obrolan melebar ke tmux, cmux, remote control, long-running sessions, dan cara membuat agent tetap bekerja tanpa kita duduk di depan laptop.
Nah, di sinilah Amp Agents Anywhere, opencode, OMP, Koma, dan amux mulai kelihatan sebagai kategori yang sama: bukan sekadar coding assistant, tapi harness. Tool yang menang mungkin bukan yang punya model terbaik, tapi yang paling enak mengatur model terbaik, model murah, context, sesi kerja panjang, dan state lokal yang tidak boleh hilang begitu terminal ditutup.
Saya pribadi makin melihat amux sebagai pasangan lokal yang pas untuk arah Amp Agents Anywhere. Amp bikin thread dan runner makin fleksibel; amux mengurus meja kerjanya: tmux workspace, restore config, runner intent, park/shelve, spawn worker, sampai verified teardown. Ini bukan pengganti Amp. Justru ia menarik karena posisinya lebih membumi: ketika Amp bergerak ke "agents anywhere", kita tetap butuh local workbench yang ingat agent mana sedang mengerjakan apa.
Soft pitch-nya sederhana: kalau kamu pakai Amp dan workflow kamu sudah mulai penuh dengan beberapa agent sekaligus, coba buka amux.zainf.dev. Nilainya bukan sekadar "bisa buka tmux lagi", tapi punya vocabulary yang aman untuk agent: pin saat ingin di-restore, park saat hanya mau stop lokal, shelve saat mau defer thread, teardown saat memang mau bersih-bersih penuh.
Model Murah Jadi Strategi, Bukan Kompromi
Obrolan budget minggu ini tidak cuma soal takut mahal. Ada strategi yang mulai matang. GLM, MiMo, Kimi, Laguna M.1, Terra, dan Luna dibahas sebagai komponen routing.
Mas Zahid sempat menjelaskan pola yang masuk akal: GLM untuk main work, Grok sebagai advisor. Mas Agung menyebut paket arsenal: GPT planning, MiMo executing, bahkan Laguna M1 untuk opsi free execute. Ini bukan downgrade. Ini cost engineering.
Mas Riza Fahmi juga memberi warna berbeda lewat Anvia: "Anvia keren ih. Bikin agent berasa gampang, natural. DX nya mantul." Saya suka quote ini karena mengingatkan bahwa murah saja tidak cukup. Kalau DX-nya membuat agent terasa natural, kita akan lebih sering memakainya, dan dari situ budget baru benar-benar terasa.
Artinya apa? Agent workflow 2026 makin mirip infra: ada premium tier, fallback, cache, routing, dan observability. Bedanya, sekarang yang kita route adalah kecerdasan.
⚡ Quick Hits
-
Firecrawl sempat jadi bahan "bansos" credits. Mas Michael share linknya, lalu Mbak Eka menemukan detail praktis: "Fun fact gak dicek follow beneran atau nggak. Asal klik semua aja, credits nambah." Pakai buat eksperimen, tapi jangan jadikan asumsi produksi.
-
Empryo muncul sebagai coding agent baru. Reaksi Mas Dedy P cukup mewakili fatigue minggu ini: "Ya ampun banyak banget wkkwk." Mas Zahid langsung menutup dengan punchline: "wkwkw habis ini muncul oh my empriyo."
-
Droid dari Factory tetap dipantau. Mas Michael melihat opsi $100 untuk model top-tier sebagai sesuatu yang bisa masuk pertimbangan, dengan catatan paling penting: "#yangadaduitnya".
-
AI Engineering from Scratch di-share Mas Husni Rizal untuk yang ingin ngulik bagian dalam. Ini jenis link yang patut disimpan, terutama kalau kita mulai merasa terlalu bergantung pada wrapper.
Quick hits minggu ini punya satu benang merah: discovery makin cepat, tapi waktu evaluasi kita tidak ikut bertambah.
✅ Yang Perlu Dicoba Minggu Ini
-
Coba Grok 4.5 sebagai advisor, bukan langsung sebagai executor utama. Bandingkan hasilnya dengan model eksekusi yang lebih murah.
-
Jalankan task planning yang sama di Codex Sol, Terra, dan Luna. Catat kualitas, waktu, dan burn rate sebelum memilih default.
-
Coba amux kalau kamu pakai Amp dan workflow-nya sudah mulai penuh dengan tmux session, runner, spawned worker, parked/shelved thread, dan konteks yang harus diingat besok pagi.
-
Pantau Koma kalau kamu tertarik dengan local harness, self-QA, dan workflow agent yang bisa dirakit sesuai budget.
-
Simpan AI Engineering from Scratch untuk bacaan weekend. Kalau wrapper makin banyak, memahami lapisan bawahnya justru makin bernilai.
-
Pakai credits Firecrawl untuk proof-of-concept crawler atau data enrichment kecil, lalu tetap hitung harga normalnya.
Minggu ini kesimpulannya sederhana: model terbaik makin banyak, tapi workflow terbaik masih harus kita rakit sendiri.
👥 Kontributor Minggu Ini
- Mas Michael: CNO minggu ini untuk Grok, Cursor, Droid, Firecrawl, dan Empryo.
- Mas Zahid: paling banyak membawa realita budget dari Grok, Sol, Terra, Luna, GLM, dan OMP.
- Mas Agung: membawa Koma, WQA, Luna, MiMo, Laguna, dan cara berpikir workflow lokal.
- Mas Aldi: menambahkan konteks akses Grok dan kebiasaan workflow Cursor.
- Mas Riza Fahmi: memberi perspektif DX lewat Anvia dan ikut meramaikan Cursor + Grok.
- Mas Luthfi A: mengangkat kebutuhan remote coding dari HP untuk CLI agents.
- Mas Mei Rizal: memberi laporan lapangan soal Sol dan perilaku limit.
- Mbak Eka: menangkap detail praktis dari Firecrawl credits.
- Mas Dedy P: merangkum rasa capek menghadapi coding agent baru yang muncul terus.
- Zain: membawa konteks Amp Agents Anywhere dan amux sebagai local tmux workspace + lifecycle layer untuk Amp.
Ditulis dari dalam grup, bukan dari luar. Zain Fathoni, dengan bantuan Bro Pro 🚔, Kang Re 📼, dan Lek Jack 🛠️ — 12 Juli 2026